Pilih KPR di Bank Syariah Atau Bank Konvensional ?

kpr syariah

Sekitar 20 tahun lalu, istilah bank mungkin masih menjadi ikon masyarakat Indonesia untuk menabung atau menyimpan uang, tak heran jika dulu sering kita baca tulisan di jalan-jalan atau tulisan di benner yang mengkampanyekan masyarakat untuk mau menabung di bank.

Seiring dengan berjalannya waktu produk-produk perbankan juga semakin banyak dan selain menabung nasabah juga banyak yang menggunakan bank sebagai sarana meminjam uang, baik itu pinjaman modal, pinjaman dana renovasi rumah, dan yang paling populer yaitu pinjaman untuk pembelian rumah atau KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

Walaupun hampir semua bank saat ini menyediakan jasa pembiayaan KPR namun banyak masyarakat yang bingung apa perbedaan KPR di bank syariah dengan bank konvensional (Non-Syariah). Perbedaan itu terletak pada barang yang di transaksikan. Jika pada bank syariah yang ditransaksikan adalah barang (dalam hal ini rumah) dengan prinsip jual beli murabahah. Sementara pada KPR konvensional yang ditransaksikan adalah uang.

Perbedaan Mendasar

Pada KPR Syariah, bank syariah seolah-olah membeli dahulu rumah yang diinginkan konsumen kepada penjual (developer) lalu menjualnya ke konsumen tersebut dengan cara dicicil, dalam transaksi ini bank mengambil margin keuntungan yang jelas dan sejak awal disepakati bersama secara konsisten hingga kredit lunas. Misalnya bank membeli rumah seharga 200 juta, lalu mengambil keuntungan¬† 25 juta, maka uang yang harus dicicil selama masa kredit adalah 225 juta setelah dikurangi uang muka yang telah dibayar sebelumnya. Nah karena bank mengambil keuntungan dari modal dan keuntungan maka memang tidak ada istilah “BUNGA” dalam setiap transaksi jual belinya maka istilah yang digunakan bukanlah bunga tetapi “MARGIN”. Itulah yang menjadi dasar mengapa nilai angsuran pada bank syariah menjadi tetap sejak awal hingga kredit lunas.

Berbeda dengan KPR di bank konvensional dimana yang di transaksikan adalah uang, dalam arti nasabah membeli rumah kepada developer menggunakan uang yang “Dipinjamkan” oleh bank. Lalu nasabah membayar dengan cara dicicil namun keuntungan yang diambil oleh bank tadi hanya konsisten pada satu atau dua tahun pertama (tetap) sedangkan di tahun berikutnya bisa berubah-ubah yang mengakibatkan nilai angsuran nasabah menjadi berubah juga.

Dinegara-negara maju seperti di Amerika Serikat, sistem perbankan syariah semakin diminati banyak masyarakatnya, hal ini karena dianggap lebih jelas dan pasti sebab memiliki banyak kelebihan.

Kelebihan KPR Syariah

Tidak seperti bank konvensional yang menerapkan bunga yang naik turun mengikuti fluktuasi bunga pasar, bank syariah menerapkan cicilan fix (tetap) karena keuntungan (margin) yang didapat pihak bank sudah secara konsisten tetap sejak awal hingga cicilan nasabah lunas.

Tidak ada istilah value of money, dimana jika konsumen terlambat membayar tidak akan dikenakan denda, demikian pula jika konsumen ingin melunasi cicilan sebelum waktunya tidak akan ada istilah penalty karena pihak bank lagi-lagi telah konsisten mengenai berapa keuntungan yang disepakati sejak awal.

Sesuai dengan namanya, maka setiap transaksi syariah harus merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah yang harus sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional sehingga transaksi dijamin kehalalannya.

Dan yang sangat penting, KPR Syariah tidak menerapkan compound interest atau bunga berganda dalam angsurannya. Sistem angsuran dihitung berdasarkan perhitungan dan perkiraan pengaruh inflasi dimana keuntungan bank juga sudah dibicarakan sebelumnya antara bank dengan calon pemilik rumah.

Penulis : Ramlan Hadiansyah | Real Estate Agent

Anda bisa berlangganan artikel dari blog ini
Melalui Blackberry masenger (BBM) Channel
Invite PIN : C00339891

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *